Kontroversi infotainment direkayasa

televisi rongsokan
Foto oleh fulmini & saette. Lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 2.0.

Kontroversi tayangan infotainment sebulan lalu yang berpuncak pada dikeluarkannya fatwa haram oleh NU ternyata tak lebih dari upaya para produser untuk mendongkrak rating. Puluhan orang dari berbagai kalangan telah dibayar untuk memulai dan mengembangkan kontroversi tersebut, antara lain dengan mengirim surat pembaca ke media cetak dan muncul di program berita untuk memberikan pendapat sebagai “anggota masyarakat”.

Temuan ini diungkap sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang menamakan diri mereka Masyarakat Anti Tayangan Infotainment (MATI), Minggu (24/9). Menurut Dr. Budi Susilo, dosen Jakarta London School of Communication yang mengepalai LSM ini, upaya marketing tersebut telah mencapai tujuannya. “Sekarang kontroversi [infotainment tersebut] telah menghilang dari media. Kita tidak pernah lagi dengar kabarnya. Artinya, tujuan produser-produser itu telah tercapai,” ujarnya.

Data yang diperoleh MerahPutih memang menunjukkan bahwa rating tayangan-tayangan infotainment meningkat tajam beberapa hari setelah media cetak dan elektronik mulai membahas apakah infotainment perlu dibatasi penayangannya. Menurut Dr. Budi, hal itu sangat normal sebab masyarakat Indonesia memiliki rasa ingin tahu yang besar. “Bahkan suami-suami yang tadinya tidak mau tahu jadi ingin tahu. Mereka ingin tahu, apa sih yang istri mereka tonton [pada] siang hari. Nah, mereka-mereka inilah yang mulai mencoba menonton dan akhirnya ikut ketagihan.”

Seorang staf di salah satu rumah produksi yang terlibat dalam usaha “marketing gerilya” ini menjelaskan sebabnya, “Setelah beberapa tahun, setelah program-program ini mulai menjamur, ibu-ibu [yang menonton program ini] mulai bosan. Saya saja yang tugasnya meng-edit hampir stress saking bosannya. Wong [antara program] yang satu dengan yang lain nggak ada bedanya.”

Staf yang tidak ingin disebutkan namanya ini kemudian menjelaskan mengapa infotainment begitu membosankan, “Liputan yang persis sama dipakai di beberapa program sekaligus; semuanya ditayangkan pada hari yang sama.” Sambil menyebut beberapa tayangan infotainment, ia menjelaskan bahwa liputan yang persis sama bisa dipakai oleh lebih dari 5 tayangan sekaligus; semuanya diproduksi oleh perusahaan yang sama.

“Kalau penonton melihat ada banyak mic [mikrofon] di depan artis yang diwawancarai,” lanjutnya, “memang reporternya banyak supaya ada yang megang. Tapi kameranya cuma satu kok. Itu supaya hemat biaya kaset video.”

Dr. Budi mengiyakan alasan tersebut, “Memang popularitas mereka menurun drastis. Karena itulah mereka juga mengambil langkah promosi yang cukup drastis.”

Rumah-rumah produksi yang dihubungi MerahPutih menolak memberikan komentar.

Sementara itu praktisi marketing terkemuka, Handoyo Abdi Negara, ketika dihubungi MerahPutih, menyatakan kekagumannya pada “biro konsultan marketing manapun yang memotori kontroversi ini.”, sebab mustahil bahwa gerakan bawah tanah terorganisir semacam ini tidak didukung oleh sebuah biro konsultan marketing.

“Ini keren, gila!” ujarnya. “Saya pernah dengar upaya semacam ini dipakai di luar negeri. Untuk Indonesia, ini yang pertama kalinya. Biro konsultan marketing yang menjalankan program ini bakal laris manis.”

Data yang diperoleh MerahPutih menunjukkan bahwa biro milik Handoyo, Mark-HAN, saat ini menduduki posisi teratas di antara biro-biro konsultan marketing lainnya di Indonesia, melejit dari peringkat ke-5 yang didudukinya 3 bulan lalu.

Icon Trudy

2 Tanggapan ke “Kontroversi infotainment direkayasa”

  1. Infotainment: Tidak Ada Bedanya Dengan Rokok « MerahPutih [Beta] Berkata:

    [...] Laporan MerahPutih sebelumnya menyebutkan bahwa kontroversi seputar infotainment dimulai oleh para produser tayangan tersebut yang berniat mendongkrak rating. Mereka membayar puluhan orang dari berbagai kalangan untuk memulai dan mengembangkan kontroversi tersebut, antara lain dengan mengirim surat pembaca ke media cetak dan muncul di program berita untuk memberikan pendapat sebagai “anggota masyarakat”. [...]

  2. Agungk Berkata:

    Yang juga perlu dipertanyakan adalah validitas ratingnya.
    Bagaimana mau membandingkan rating infotainment dengan thema yang lain bila pada saat yang bersamaan semua stasiun tv menyiarkan acara yang sama (infotainment)?
    Jelas dong jadi tinggi, wong konsumen gak ada pilihan lain.
    Jadi ceritanya bukan lagi selera konsumen yang menentukan popularitas acara, tapi
    para produsen acara/tv yang mem-force-feed konsumen dengan acara-acara sampah seperti infotainment ini.

    Menjijikkan…

Tinggalkan Balasan