
Foto oleh camera_rwanda. Lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 2.0.
Bagi Pak Sardi (bukan nama sebenarnya) yang sudah mengemis di Jakarta selama 11 tahun terakhir, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dimana pendapatan harian dipastikan meningkat. Pada bulan ini, orang-orang yang biasanya anti pengemis tiba-tiba menjadi dermawan dan para dermawan pun meningkatkan jumlah sumbangannya. Akan tetapi, tahun ini adalah sebuah pengecualian buatnya. Bukannya meningkat, pendapatan harian Pak Sardi malah menurun drastis.
Hal ini bukan disebabkan oleh para petugas Tramtib yang bertambah giat melakukan razia terhadap gelandangan dan pengemis. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jakarta dibanjiri para pengemis dari luar daerah yang ingin memperoleh pendapatan lebih pada bulan Ramadhan kali ini. Biasanya Pak Sardi tidak pernah merasa terancam, “Soalnya meski banyak [pengemis] yang masuk, yang ngasih juga tambah banyak. Jadi penghasilan saya tetap naik.”
Masalahnya, pengemis yang masuk ke Jakarta pada bulan Ramadhan tahun ini luar biasa banyaknya. Akibatnya, mereka terpaksa bersaing satu dengan lainnya demi “menjaring” para dermawan yang jumlahnya tidak bertambah dari tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau bukan bulan puasa,” ujar Pak Sardi, “saya biasanya paling banyak dapat Rp 50.000,- per hari. Itu kalau tempatnya bagus dan tidak hujan. Kalau bulan puasa tahun-tahun lalu bisa naik sampai Rp 300.000,- sampai Rp 400.000,- sehari. Soalnya banyak yang ngasih [uang] pecahan gede. Tahun ini aneh. Masa kemarin saya cuma dapat Rp 40.000,-?”
Rupanya kenaikan drastis jumlah “pengemis urban” pada bulan Ramadhan kali ini disebabkan oleh banyaknya daerah di Indonesia yang mengalami bencana. Menurut Pak Sardi, kompetisi terbesar datang dari para pengemis asal Porong, Sidoarjo yang desanya tenggelam oleh lumpur panas. Selain itu masih ada para pengemis dari Yogyakarta yang dilanda gempa beberapa bulan lalu, para pengemis dari Aceh yang datang karena tidak punya rumah sejak bencana tsunami, maupun bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kehilangan pendapatan sejak berakhirnya konflik di Aceh.
Ketika ditanya mengapa mereka memilih datang ke Jakarta, salah satu pengemis dari Sidoarjo menjawab, “Semua juga tahu kalau orang Jakarta kaya,” sementara yang lainnya menjawab, “Saya nggak punya rumah lagi gara-gara flu burung.” Ketika ditanya lebih lanjut, pengemis yang kedua menjelaskan ia dililit hutang karena semua unggas di peternakannya terpaksa dimusnahkan.
Kembali ke Pak Sardi. Sebenarnya ia merasa kasihan terhadap mereka yang dilanda bencana, tetapi rasa prihatin tersebut terpaksa berubah menjadi kekesalan karena para pendatang ini rupanya mengemis dengan cara-cara yang, menurut Pak Sardi, tidak sehat.
“Ngapain jauh-jauh dari Sidoarjo ke Jakarta?” tanyanya. “Surabaya, Semarang, itu kan lebih dekat.”
Para pengemis dari Sidoarjo mengaku bahwa mereka tidak bisa lagi masuk ke Surabaya dan Semarang karena pasar mengemis di kedua kota tersebut sudah jenuh; sudah terlalu banyak pengemis.
“Terus,” lanjut Pak Sardi, “pendatang-pendatang itu jauh lebih gesit. Begitu lampu merah, langsung berlarian ke mobil-mobil. Nggak cuma mobil mahal, mobil murahan dimintain juga.” Pengamatan MerahPutih di kawasan sekitar Mangga Dua memang menunjukkan bahwa para pengemis luar daerah mencoba menambah pendapatan mereka dengan cara menjaring sebanyak mungkin mobil selama lampu merah menyala. Mereka bergerak cepat dari satu mobil ke mobil lainnya secara terorganisir, bandingkan dengan pengemis lokal yang lebih memilih menunggui satu mobil sampai diminta pergi pengemudinya.
Selain itu, menurut Pak Sardi para pengemis ini bersedia dibayar murah. Maksudnya, mereka berani menyetor lebih besar kepada preman-preman lokal demi keamanan. Hasilnya, “Saya diusir sama preman-preman,” ujar Pak Sardi.
MerahPutih bertanya kepada salah satu preman yang mengawasi para pengemis di sekitar Pasar Tanah Abang. Menurutnya, “Kami harus menjaga perempatan ini supaya persaingannya tetap sehat. Artinya, semua dapat [uang yang] cukup. Jadi kalau terlalu banyak pengemis yang bergerombol, ya harus diusir. Kalau Anda yang menyetir mobil melihat terlalu banyak pengemis, mata jadi tidak enak juga, kan?”
Ketika ditanya mengapa pengemis lokal seperti Pak Sardi diusir, “Ya… kami kan mengikuti hukum ekonomi. Yang bayar lebih, diberi kesempatan lebih, diberi kemudahan. Gampang, kan? Sama seperti situ ngurus KTP atau SIM…”
Jadi apakah para pengemis dari luar Jakarta berpenghasilan lebih? Rupanya tidak. Bayaran lebih yang mereka setor ke para preman menyebabkan pendapatan mereka berkurang. Salah satu pengemis dari Yogyakarta mengaku memperoleh kira-kira Rp 40.000,- setiap harinya setelah dipotong setoran ke berbagai pihak, sama dengan yang diperoleh Pak Sardi.
Bedanya, “Saya sudah bersyukur kalau dapat uang sebanyak ini. Namanya juga cari makan di tempat orang. Kalau uangnya nanti saya bawa pulang ke kampung, bisa beli macam-macam.”
Pak Sardi tetap tidak puas, “Lho, itu kan harga-harga di kampung mereka. Saya kan tinggalnya di Jakarta. Pengeluarannya Jakarta juga. Rp 40.000,- mana cukup?”
![]()
Senin, 18 Desember 2006 pukul 13:51 |
Rasa cukup tidak pernah tercapai oleh manusia serakah, hingga ajal datang menjemput barulah mereka akan cukup dengan lembaran kain kafan yang menutupi tubuhnya. Sebenarnya mental-mental seperti ini perlu di bina/arahkan agar mereka tidak menjadi manja untuk bekerja dan berusaha. Rasanya malu jika kita lihat semut hewan yang tak henti-hentinya bekerja untuk menyambung hidupnya tanpa harus menunggu manusia memberikan sisa makanannya (tentu saja kita tidak pernah dengan sengaja memberikan sisa makanan kepada si semut, paling juga dengan si meong). Contoh banyak sekali pengemis di negeri kita yang kaya tapi tetap meneruskan profesinya itu (bahkan menjadi pekerjaan tetap). Mungkin link di bawah ini perlu jadi renungan buat kita, betapa banyak saudara kita yang menempuh cara-cara yang kurang terpuji untuk mencari nafkah. (Apalagi para koruptor…)
http://zigma.wordpress.com/2006/12/15/pengemis-yang-kaya/