Susahnya jadi turis di Kebun Raya Bogor

- Turis asing mulai belajar untuk menawar

Salah satu sudut Kebun Raya Bogor

Saya mengenal Bogor sejak dulu sebagai “Kota Hijau” bukan karena banyaknya tumbuhan yang menghiasi kota tersebut, melainkan karena menjamurnya angkot-angkot (kendaraan angkutan kota) yang kebetulan berwarna hijau. Hari Minggu kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Hijau kembali. Kali ini saya berniat mengunjungi Kebun Raya Bogor (KRB) demi melepaskan kepenatan setelah seminggu yang sibuk di kampus.

KRB adalah bagian dari Bogor yang benar-benar hijau. Dulunya bagian dari halaman Istana Bogor, KRB diubah ke bentuknya yang sekarang oleh ahli botani Belanda kelahiran Jerman, Professor Casper George Carl Reinwardt. Dibuka pada tahun 1817, KRB kini memiliki koleksi lebih dari 15.000 spesies tumbuhan, termasuk di antaranya 3.000 jenis anggrek.

Terus terang, saya mengharapkan KRB benar-benar menjadi pelepas stress. Sayangnya KRB bukan lagi sebuah tempat yang tentram. Beberapa saat setelah saya membeli tiket dan memasuki areal KRB, saya melihat sebuah kejadian yang cukup menarik: seorang turis bule berlari dikejar tiga pedagang cinderamata.

Rupanya para pedagang ini bermaksud menawarkan dagangan mereka ke si bule. Meski sang turis sudah berteriak, “No, no, NO!!!” para pedagang tersebut masih saja mengejarnya.

Pedagang cinderamata memang menjadi salah satu elemen yang mengurangi kenyamanan para pengunjung KRB. Sebenarnya mereka dilarang berjualan di dalam KRB, akan tetapi para pedagang rupanya cukup kreatif dalam “memasukkan” diri mereka, misalnya dengan melompati pagar.

Bayangkan: saya sedang duduk-duduk di depan kolam teratai di salah satu pojok KRB ketika seorang pedagang datang menawarkan makanan kecil. Tak lama kemudian datang pula pedagang yang menawarkan model sepeda motor dari kayu. Tentu saja saya menolak, sebab dengan ikut membeli barang dari para pedagang “ilegal” ini, saya akan turut mengurangi kenyamanan para pengunjung KRB. Pedagang ada sebab ada yang membeli. Mereka berani melompati pagar karena mencium”gula” yang sangat manis di baliknya.

Jadi ingatlah: apabila Anda berkunjung ke KRB, bawalah makanan dan minuman Anda sendiri.


Turis asing diberi “prioritas”

Setelah mengamati perilaku para pedagang, khususnya pedagang cinderamata, saya berkesimpulan bahwa mereka mendiskriminasikan bangsanya sendiri dalam menawarkan dagangan; mereka cenderung lebih aktif mendekati para turis asing. Mereka sangat aktif hingga kadang-kadang terlihat agresif. Contohnya, ya si bule tadi.

Saya bertanya kepada Pak Asep, salah satu pedagang tikar di KRB. Menurutnya, para pedagang cenderung lebih menyukai turis asing karena mereka jarang menawar harga barang yang mereka beli. Atas dasar tersebut pula, apabila bisa memilih, para pedagang lebih suka mendekati turis ras Eropa dibandingkan dengan mereka yang berasal dari Asia.

Rupanya para pedagang secara tak sadar telah mengikuti prinsip ekonomi: mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dengan memberikan usaha sekecil mungkin. Menawarkan barang kepada turis asing memang memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk sukses, selain lebih hemat waktu. Untuk urusan yang terakhir ini, Pak Asep bahkan memiliki buku yang berisi daftar kalimat yang biasa digunakan untuk menawarkan dagangan dan bertransaksi dalam 6 bahasa (Inggris, Jerman, Jepang, Mandarin, Perancis dan Swahili).

Tidak semua turis asing senang dengan perlakuan “prioritas” ini. Salah satunya adalah Bertram, turis dari Belanda yang pertama kali datang ke Indonesia. Ketika saya tanya mengapa dia sangat terganggu, ia menjelaskan dalam bahasa Inggris, “Saya sudah berkali-kali bilang saya tidak punya uang. Eh, masih dikejar-kejar juga. Mereka membuat saya kesal. Hampir mau saya pukul, tapi takut kalau nanti saya dikeroyok.” Rupanya Bertram adalah seorang backpacker, seorang turis yang sudah berkeliling Asia dengan biaya sangat rendah. Dia hanya membeli barang yang benar-benar ia perlukan, “Coba pikir, buat apa saya beli model sepeda motor dari kayu? Saya ‘kan tidak bisa bawa barang yang berat-berat keliling Asia.”

Bertram melanjutkan dengan menyatakan bahwa ia kapok datang ke KRB karena pedagangnya ganas-ganas, “lebih ganas dari pedagang paling ganas yang saya temui di Thailand.”


Turis membalas

Søren Kierkegaard adalah seorang pria berkebangsaan Denmark yang sudah bekerja selama 2 tahun di salah satu bank di Jakarta. Ia, seperti saya, suka ketenangan dan pergi sewaktu-waktu ke KRB untuk mendapatkannya. Masalahnya, ia berambut pirang. Tentu saja itu membuatnya menjadi sasaran empuk para pedagang cinderamata. Ia memutuskan bahwa para bule harus balik melawan.

Ketika saya temui di dekat pintu masuk KRB hari Minggu kemarin, Søren sedang membagikan selebaran kepada para turis asing. Selebaran dalam 2 bahasa (Inggris dan Jepang) tersebut berisi ajakan kepada para turis asing agar berusaha menawar harga barang-barang yang mereka beli dari para pedagang cinderamata, berikut daftar kalimat dalam bahasa Indonesia dan Sunda yang bisa digunakan untuk menawar. Selain itu, tercantum pula “daftar harga standar” dalam Rupiah dan Dolar Amerika berisi harga-harga barang yang biasa dijual pedagang di KRB setelah ditawar.

Salah satu petunjuk yang diberikan Søren dalam selebaran tersebut adalah, “Apapun harga barang yang diberikan, selalu cek daftar harga standar. Apabila barang tersebut tidak ada dalam daftar, selalu tawar setengah harga. Apabila Anda tidak yakin, jangan beli barang tersebut.”

Menurut Søren, selebaran tersebut ditujukan untuk mengurangi gangguan yang dialami para turis asing. “Apabila turis asing berani menawar, mereka tidak akan menjadi sasaran empuk para pedagang lagi,” ujarnya.

Aksi Søren tersebut tentu saja tidak disukai para pedagang. Minggu lalu, menurut Søren, beberapa pedagang berusaha mengusirnya. Tentu saja ia tidak ingin mencari keributan dan pergi. Akan tetapi, hari Minggu kemarin ia beroperasi tanpa gangguan sama sekali.

“Saya sudah bayar uang keamanan,” ujar Søren sambil tersenyum lebar.

Icon Trudy

Tinggalkan Balasan