Film Indonesia: Mengerikan! (Bag. 1)

- Film yang buruk ternyata lebih menguntungkan.

tengkorak mengerikan
Foto oleh I’m Fantastic. Lisensi Creative Commons Attribution 2.0.

Ketika Daniel Asmara masih duduk di bangku SMA, ia pergi menyaksikan Ada Apa Dengan Cinta? tiga kali dalam satu minggu, “Yang pertama sendiri, yang kedua dengan pacar dan yang ketiga dengan kerabat dari luar kota.” Sekarang, apabila Daniel yang kini bekerja di salah satu biro iklan di bilangan Semanggi diajak pergi ke bioskop untuk menyaksikan film produksi Indonesia, ia akan menolak mentah-mentah.

“Kemungkinannya sekitar 90% bahwa film yang akan saya saksikan itu ampas, tidak berguna dan tidak memiliki nilai hiburan sama sekali,” ujarnya. “Daripada pergi ke bioskop, lebih baik saya diam di rumah dan tidur.”

Penikmat film seperti Daniel bukannya tidak punya pilihan. Akhir tahun ini, bioskop-bioskop di Indonesia dipenuhi berbagai judul film horor yang keberadaanya terkesan aneh karena kebetulan dirilis pada saat yang hampir bersamaan. Sebut saja film-film seperti Kuntilanak, Hantu Bangku Kosong, KM 14 dan Hantu Jeruk Purut, ditambah dengan Pocong 2 yang akan dirilis bulan ini.

“Masalahnya,” jelas Daniel, “apapun yang saya pilih, saya akan keluar dari bioskop dengan kepala pusing dan bukannya senang.”

Keresahan Daniel cukup beralasan. Menurut artikel The Jakarta Post pada hari Minggu, 3 Desember 2006, tidak satupun di antara judul-judul di atas (kecuali Pocong 2 yang belum bisa dinilai) yang pantas disebut sebagai sebuah film. Harian tersebut menunjuk beberapa faktor sebagai penyebab buruknya kualitas film-film tersebut: skenario, penyutradaraan, tata kamera, musik dan editing yang buruk. Ditambah dengan para pemeran yang terkesan sangat amatir dan dibuat-buat, film-film tersebut praktis gagal memenuhi semua elemen yang merupakan ciri sebuah film yang pantas ditonton.


Penonton: kami tidak bodoh!

Minggu lalu, MerahPutih diundang untuk menghadiri test screening film Hantu Bundaran Pondok Indah yang diproduksi PT. Elang Jawa Film. Pemutaran semacam ini bertujuan untuk memperoleh masukan dari para penonton sehingga film yang bersangkutan dapat diedit untuk memenuhi selera pasar ketika dirilis nanti. Hantu Bundaran Pondok Indah akan mulai diputar Januari 2007.

Dari test screening tersebut, dapat terlihat jelas betapa buruk kualitas film Indonesia akhir-akhir ini. Hantu Bundaran Pondok Indah menggunakan dua aktor pendatang baru – Johan Adama sebagai David dan Shirley Tobing sebagai Desi – yang berperan sebagai pasangan yang dihantui sosok berjubah hitam setelah mereka mencoba berburu hantu di bundaran yang terletak di Jalan Metro Pondok Indah.

Film baru ini dihiasi musik yang mirip sekali dengan jenis musik yang biasanya digunakan dalam sinetron-sinetron. Mungkin terinspirasi The Blair Witch Project, Hantu Bundaran Pondok Indah memiliki kamera yang aktif bergerak, sesekali terkesan ikut berlari bersama para karakter. Kamera dalam film ini sangat aktif sehingga MerahPutih dan beberapa penonton lainnya merasa pusing dan harus menutup mata sesaat, beberapa kali selama pemutaran film berlangsung.

Selain skenario yang amat buruk (menurut penonton yang duduk di sebelah MerahPutih, ditulis seorang pelajar SMA), kualitas para pemeran pun sangat tidak membantu. Johan Adama terlihat sangat tidak mendalami karakternya. Ia sering sekali berteriak histeris; beberapa penonton berkomentar bahwa karakternya, David, lebih seram dari hantu dalam film tersebut. Shirley Tobing, di sisi lain, kerap melanggar tabu dalam dunia film: ia melihat ke arah kamera.

Tak heran, hampir setengah dari seluruh penonton yang hadir telah meninggalkan ruang bioskop satu jam setelah film mulai diputar.

Anto Wijaya, pelajar SMA yang ikut menghadiri pemutaran tersebut, mengatakan kepada MerahPutih bahwa penonton sekarang tidak lagi bodoh. “Lama-lama film seperti ini akan kehilangan penggemar,” ujarnya. “Penonton sudah bisa mengapresiasi kualitas sebuah film dan tidak lagi mau termakan usaha pembodohan bangsa seperti ini.”

Kok saya lihat akhir-akhir ini film sudah mulai mirip sinetron, ya?” tambah Anto. Ketika ditanya mengapa ia tetap tinggal sampai film berakhir, Anto hanya menjawab, “Yang nulis skenario teman sekelas saya.”


Produser: tapi kami lebih pintar!

Ketika ditemui MerahPutih, produser dari PT. Elang Jawa Film, Ajay Bajaj, mengatakan bahwa pihaknya sudah memperhitungkan bahwa reaksi para penonton akan seperti ini. “Saya sudah berkecimpung di industri perfilman Indonesia selama 25 tahun,” ujarnya. “Saya tahu apa yang penonton mau.”

Ditanya mengapa PT. Elang Jawa Film memproduksi film seperti ini, Ajay menjawab, “Mudah, itu semua untuk memotong pengeluaran. Makin murah filmnya, makin mudah dapat untung. Karena itulah kami memakai skenario yang murah, pemeran yang belum berpengalaman dan sutradara yang baru lulus dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta – red) untuk menggarap film ini.”

Ajay bukannya tidak mempertimbangkan memproduksi film berbiaya tinggi untuk mendapat keuntungan tinggi. Menurutnya, “Kami sudah hitung-hitungan. Kalau bikin film mahal, dan kalau film mahal itu gagal, saya rugi besar. Lebih baik bikin film murah, tapi banyak.”

Produser tersebut kemudian menjelaskan logikanya. Menurutnya, target pasar yang diincar perusahaan film akhir-akhir ini adalah generasi muda yang tidak terlalu peduli dengan kualitas sebuah film. Menurutnya, golongan ini jumlahnya cukup besar, “sebab mereka memandang nonton film sebagai aktivitas sosial dan bukannya untuk menikmati film yang ditayangkan. Para pasangan yang masuk bioskop untuk…” Ajay berhenti sejenak, “ya… Anda juga tahu, kan? Mereka juga bersedia membayar tiket untuk mendapat tempat yang aman untuk melakukan kegiatan tertentu.”

Karena itulah perusahaan-perusahaan film (sebagian juga memproduksi sinetron) memproduksi film semacam Hantu Bundaran Pondok Indah. Daripada mempertaruhkan uang mereka dalam satu film, mereka memproduksi banyak film murah yang telah dirancang sehingga, “meski bioskop cuma setengah penuh, kami sudah untung.”

Tentu, ada beberapa resep tambahan untuk mendorong kesuksesan film semacam ini. Kembali menurut Ajay, “Pastikan pemeran utama prianya muda dan ganteng. Kalau sudah begitu, cewek-cewek akan mengajak pacar mereka untuk nonton. Otomatis dua tiket dibeli.”

Meski demikian, masih ada sebuah misteri yang belum terpecahkan: mengapa akhir tahun ini sinema Indonesia seketika dipenuhi film-film horor? Ajay hanya tersenyum, “Kalau itu, kami semua sudah janjian. Kalau banyak begini, kan, para penonton akan berlomba-lomba untuk menonton semuanya.”

Bersambung

Dalam Bagian 2, MerahPutih mengunjungi lokasi pembuatan sebuah film horor Indonesia. Kami akan menyelidiki lebih lanjut mengenai seluk-beluk dunia perfilman “Kelas B” Indonesia. Ternyata, fenomena seperti ini adalah bagian dari sebuah siklus. Kami juga akan mengungkap cara mudah para produser untuk memotong pengeluaran.

Icon Trudy

Tinggalkan Balasan