Dalam Bagian 1, MerahPutih mengupas fenomena film horor Indonesia berkualitas rendah yang menjamur pada akhir tahun ini. Ternyata, para produser memang tidak berniat membuat film-film yang berkualitas tinggi, melainkan film-film bernilai produksi rendah yang lebih menguntungkan secara finansial.
Yudi Prakasa, pengamat film dari Institut Kesenian Jakarta, amat antusias apabila diajak berdiskusi mengenai kualitas dan kuantitas produk dunia perfilman Indonesia. Lebih dari 10 tahun yang lalu, Yudi adalah seorang siswa SMA yang cukup rajin mengunjungi bioskop-bioskop “pinggiran” untuk menonton film-film Indonesia seperti di bawah ini.
Adegan sebuah film Indonesia yang diproduksi pada masa 1990-an. Film-film pada masa itu dengan berani bermain dengan gunting sensor.
Foto diambil dari film Panther oleh Trudy Santoso. Digunakan berdasar asas “fair use” untuk bahan analisa dalam artikel ini.
Ditemui kemarin (Jumat 08/12) di ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest), Yudi masih ingat jelas mengenai bagaimana film-film tersebut pada umumnya, “Kami semua yang ada di dalam ruangan bioskop tahu: kami bukan ke sini untuk nonton film. Film-film ini umumnya tidak punya cerita sama sekali. Kalaupun ada, itu hanya formalitas sehingga karya tersebut bisa disebut film. Hampir semua penonton, kecuali mereka yang benar-benar naif, datang untuk adegan-adegan panas.”
Yudi kemudian menjelaskan lebih lanjut, “Film-film ini digarap dengan biaya amat rendah, lengkap dengan para pemeran yang tidak serius dan cewek-cewek yang hot.” Di masa inilah Indonesia, menurut Yudi, mulai mengenal para bom seks seperti Ayu Azhari, Yurike Prastica, Kiki Fatmala, dan Ineke Koesherawati. Film-film ini juga berani bermain dengan gunting sensor, “Mereka tahu persis bagaimana caranya untuk lewat.”
Meski dipenuhi dengan adegan pasangan yang sedang berhubungan intim dan perempuan hanya berbalut pakaian dalam tanpa alasan yang jelas, film-film ini tetap lulus sensor. Alasannya? “Mereka tidak pernah menampakkan organ-organ intim dengan langsung,” jelas Yudi. “Biasanya selalu ditutupi sesuatu, minimal tangan. Cara ini biasanya disebut sekwilda, ’sekitar wilayah dada’, atau bupati yang artinya ‘buka paha tinggi-tinggi’.”
Siklus film Indonesia
Menurut Yudi, kemunculan film-film Indonesia berkualitas rendah seperti yang terjadi akhir-akhir ini adalah bagian dari sebuah siklus yang selalu berulang. Dunia perfilman Indonesia senantiasa bergerak naik dan turun, mengalami masa keemasan di satu saat dan terpuruk di saat lainnya.
Jelas Yudi, “Dulu sekali kita mengenal sineas-sineas seperti Arifin C. Noer, Benyamin Sueb, Bing Slamet dan bahkan trio Warkop DKI yang menghasilkan film-film berkualitas pada masa 1970 sampai 1980-an. Setelah masa kejayaan itu, para produser mulai mengeksploitasi para konsumen dan meluncurkan film-film horor, seks, atau horor berbau seks. Akhirnya dunia perfilman Indonesia terpuruk.
“Kemudian, muncul pembuat film seperti Jajang C. Noer, Mira Lesmana dan Nia Dinata yang membangkitkan dunia perfilman Indonesia. Seperti yang kita lihat sekarang, para produser pencari uang mulai bangkit lagi. Jadi saya ramalkan bahwa tidak lama lagi perfilman kita akan terpuruk lagi ketika tidak ada lagi yang mau membiayai film berkualitas bagus.”
Yudi bukannya tidak menyadari bahwa penonton sekarang telah menjadi lebih arif dalam menilai sebuah film. Akan tetapi, menurut Yudi, para produser telah mengantisipasi bertambah pintarnya para penonton. Pengamat film ini menggunakan teori psikologi Hirarki Kebutuhan Maslow (Maslow’s Hierarchy of Needs) yang amat populer dalam menjelaskan pandangannya.
![]()
Teori yang dikemukakan oleh psikolog Amerika, Abraham Maslow, ini menyatakan bahwa ketika manusia memenuhi kebetuhan-kebutuhan dasarnya, ia akan berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang “lebih tinggi” sesuai hirarki yang ditunjukkan diagram di atas.
Klik untuk melihat versi diagram yang lebih besar.
Studi yang dilakukan Yudi setahun terakhir menunjukkan bahwa produser pada masa 1990-an memproduksi film-film yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti yang ditunjukkan Hirarki Maslow. Seperti yang terlihat pada bagian diagram yang berwarna merah, era 1990-an diwarnai film-film bertema seks. “Kalau sekarang,” lanjut Yudi, “kita sudah berada satu tingkat di atas (jingga – red.). Sekarang para produser membuat film-film dengan tema horor yang intinya mengusik security, rasa keamanan yang diperlukan manusia.”
Yudi berharap agar penonton Indonesia bertambah cermat setiap dekade sebab, “Lama-lama kita akan mentok sampai atas. Artinya, film-film yang beredar akan memiliki kualitas.”
Produksi film: proses serba cepat
Berdasarkan undangan dari PT. Elang Jawa Film, MerahPutih mengunjungi lokasi pembuatan film Pensil Maut. Film ini bercerita mengenai sebuah pensil, dimana orang yang namanya ditulis dengan pensil tersebut akan mati akibat serangan jantung. Film horor ini akan dirilis di seluruh Indonesia pada bulan Februari 2007.
Seperti yang dikatakan Ajay Bajaj, produser dari PT. Elang Jawa film, sebelumnya, pembuatan film seperti ini memang penuh usaha untuk memotong pengeluaran. Selain kamera yang sudah digital (menggandakan film dalam media seluloid amat mahal), hampir seluruh peralatan yang digunakan dalam memproduksi film ini terlihat tua.
Gunawan, manajer produksi film ini, ketika ditemui mengatakan bahwa peralatan yang sama digunakan 10 tahun lalu untuk memproduksi film PT. Elang Jawa Film yang terakhir sebelum dunia perfilman Indonesia mati suri. “Judulnya,” Gunawan berusaha mengingat, “kalau tidak salah Jatuh ke Dalam Pergaulan Bebas.”
Gunawan kemudian menjelaskan usaha-usaha yang ditempuh demi menekan pengeluaran, “Skenario kami beli langsung dari India dan diterjemahkan begitu saja. Sutradaranya biasa bikin iklan, tidak ada pengalaman bikin film, jadi bayarnya cukup murah.”
Usaha memotong pengeluaran tersebut rupanya terlihat amat jelas ketika seorang figuran memakai sari, pakaian tradisional India, masuk ke lokasi; lengkap dengan bindi (dekorasi yang umum terlihat di dahi perempuan India) tentunya.
Pemeran utama Pensil Maut, Antonio Chandra, ketika ditemui di sela-sela pengambilan gambar di kawasan Kelapa Gading mengatakan bahwa ia amat antusias karena dapat berperan dalam sebuah film. Meski demikian, ia menyayangkan jangka waktu pengambilan gambar yang cuma 7 hari.
“Kayaknya saya bisa juga jadi aktor. Soalnya jarang banget sutradara minta retake (pengulangan pengambilan gambar – red). Biasanya sekali ambil, langsung jadi,” ujar Antonio.
![]()

