- Minat masyarakat untuk berkunjung menjadi berkurang

Foto oleh Ferry Zuljanna. Lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
Selapa Knowledge Centre (SKC), pusat pengetahuan pertama di Kepolisian Republik Indonesia yang diresmikan Kapolri Jenderal Polisi Sutanto hari Senin (18/12), ternyata tidak mendapat sambutan yang begitu hangat dari masyarakat. Rupanya sebagian anggota masyarakat yang tinggal di sekitar SKC mengira bahwa fasilitas milik Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa) Polri di Ciputat, Jakarta Selatan ini tidak memiliki perpustakaan.
Suparna, mantan polisi dan kakek dengan 5 cucu yang bertempat tinggal di Ciputat mengatakan bahwa ia berniat mengajak cucu-cucunya ke perpustakaan, “Saya dengar fasilitas yang baru ini ada taman bacaannya.” Akan tetapi, niatnya batal karena berdasarkan pengamatannya, SKC sama sekali tidak memiliki fasilitas yang dimaksud.
SKC yang bertujuan untuk mendidik perwira handal dengan integritas yang tinggi, menurut keterangan Polri, dilengkapi dengan perpustakaan, akses internet dan videoconference, toko buku, kafe serta taman bacaan anak-anak. Selain bagi anggota kepolisian, SKC juga terbuka bagi masyarakat umum demi menjalin komunikasi antara Polri dengan masyakarat.
Rupanya Suparna berkesimpulan bahwa SKC tidak memiliki perpustakaan setelah membaca daftar fasilitas yang tertulis di muka depan gedung utama SKC. Di muka gedung tersebut memang tidak secara jelas tertulis “PERPUSTAKAAN” sebagai salah satu fasilitas SKC, melainkan “LIBRARY” yang tidak lain adalah istilah bahasa Inggris untuk perpustakaan.
Setelah dijelaskan bahwa “library” adalah “perpustakaan” dalam bahasa Inggris, Suparna yang seumur hidupnya tidak pernah belajar bahasa Inggris menyatakan bahwa ia akan membawa cucu-cucunya ke SKC untuk mendapatkan manfaat dari fasilitas-fasilitas yang tersedia. Akan tetapi, ia menyesalkan keputusan pihak Polri untuk menggunakan tulisan “LIBRARY” sebagai salah satu fasilitas dan bukannya “PERPUSTAKAAN”.
“Saya ‘kan sudah tua, tidak mengerti,” ujar Suparna heran.
Ia juga menyatakan keheranannya mengapa SKC diberi nama dengan bahasa Inggris, “Mengapa tidak ‘Pusat Pengetahuan Selapa’? Itu jelas lebih Indonesia. Kalaupun mau dinamai dengan bahasa Inggris, sebaiknya ditulis kecil-kecil saja di bawah nama resminya.”
Dihubungi di Palembang, Guru Besar Bahasa Universitas Indonesia Andri Maramis juga menyatakan keprihatinannya atas keputusan Polri tersebut, “Saya takut trend ini bakal diikuti instansi-instansi pemerintah lainnya. Ini ironis, soalnya terlihat sekali bahwa pemerintah kita sendiri ternyata tidak confident memakai bahasa Indonesia.”
![]()
Kamis, 4 Januari 2007 pukul 17:26 |
Wah, ternyata foto itu berguna juga ya.
Salam kenal.